Browse By

Kisah Carina Hong: DO dari Stanford demi Bangun Startup AI, Rekrut Profesor Jadi Anak Buah

Foto : MIT/Carina Hong, ahli matematika lulusan MIT dan Oxford, memilih keluar dari program S3 Stanford untuk dirikan perusahaan

JAKARTA, PJN MEDIA – Gelar PhD dari universitas prestisius dunia biasanya menjadi incaran banyak akademisi. Namun, tidak bagi Carina Hong. Di usia yang baru menginjak 24 tahun, matematikawan muda ini memilih untuk melakukan Drop Out (DO) dari program doktor Matematika di Universitas Stanford—kampus peringkat ke-3 terbaik dunia versi QS World University Rankings 2026.

Langkah berani ini diambil Hong demi mendirikan Axiom Math, sebuah startup yang fokus pada pengembangan Artificial Intelligence (AI) dengan kemampuan penalaran matematika tingkat lanjut.

Jenius Matematika: Lulus MIT dalam 3 Tahun

Sebelum mengguncang dunia startup, Carina Hong sudah dikenal sebagai “anak ajaib” di komunitas internasional. Rekam jejak akademisnya sangat impresif:

  • Sarjana (S1): Meraih gelar ganda Matematika dan Fisika dari MIT (kampus nomor 1 dunia) hanya dalam waktu tiga tahun.
  • Magister (S2): Melanjutkan studi Master Neurosains di Universitas Oxford melalui beasiswa bergengsi Rhodes Scholarship.
  • Penghargaan: Meraih Morgan Prize 2023 dan Alice T. Schafer Prize 2022, penghargaan tertinggi bagi peneliti matematika muda.

Membangun Axiom Math: Saat Profesor Menjadi Karyawan

Salah satu fakta paling menarik dari perjalanan Hong adalah kemampuannya membangun tim elite di Axiom Math. Kejeniusannya mampu menarik minat para ahli senior untuk bergabung, termasuk:

  1. Mantan profesor yang pernah membimbingnya semasa kuliah.
  2. Pakar teknologi dari divisi papan atas seperti Meta dan Google Brain.

Kehadiran talenta berkelas ini membuktikan bahwa visi Hong dalam memadukan matematika murni dengan Deep Learning (pembelajaran mendalam) dianggap sebagai masa depan industri teknologi.

Menghubungkan Matematika, AI, dan Industri

Bagi Carina Hong, matematika bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan fondasi bagi keamanan teknologi masa depan. Axiom Math bertujuan memecahkan masalah matematika sulit yang selama ini membingungkan para ilmuwan.

“Saya ingin memecahkan masalah teknis yang benar-benar sulit. Bagaimana masa depan interaksi AI dan matematikawan? Ini adalah teka-teki yang ingin saya kerjakan,” ujar Hong sebagaimana dikutip dari laman MIT Alumni.

Hong percaya bahwa kemampuan penalaran AI berbasis matematika dapat diaplikasikan pada bidang yang lebih luas, seperti:

  • Verifikasi Perangkat Lunak: Memastikan keamanan sistem tanpa celah.
  • Kriptografi: Memperkuat keamanan data melalui algoritma yang lebih canggih.
  • Verifikasi Perangkat Keras: Meminimalisir kesalahan desain pada chip komputer.

Meskipun Axiom Math saat ini masih berupa tim kecil, startup ini telah memicu diskusi global tentang bagaimana kepemimpinan seorang matematikawan canggih dapat mengubah arah pengembangan kecerdasan buatan.