Woko Hadi Pristiawan: Sekolah Harus Mandiri Finansial dan Berhenti Bergantung pada Dana BOS

JAKARTA, PJNTV.COM – Kondisi banyak sekolah di Indonesia saat ini dinilai sedang tidak baik-baik saja. Meski terlihat berjalan normal di permukaan, kenyataannya banyak lembaga pendidikan yang berjuang keras hanya untuk menutup biaya operasional harian, seperti tagihan listrik hingga gaji tenaga pendidik.
Fenomena “bertahan hidup” ini menjadi sorotan tajam bagi Woko Hadi Pristiawan, seorang penulis sekaligus konsultan pendidikan yang telah mendampingi berbagai sekolah di tanah air sejak tahun 2007. Melalui karyanya yang berjudul Sekolah Berdaulat, ia mengungkap bahwa ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menjadi penyebab utama rapuhnya sistem keuangan sekolah saat ini.
Krisis Kemandirian di Balik Dana BOS
Menurut Woko, dana BOS seharusnya dipandang sebagai bantuan penunjang, bukan solusi tunggal atau sumber pendanaan utama. “BOS itu membantu, tapi bukan solusi utama. Banyak sekolah akhirnya kehilangan kemampuan untuk mandiri karena terlalu bergantung,” tegasnya.
Ketergantungan yang ekstrem ini membawa risiko besar, terutama saat pencairan dana mengalami keterlambatan. Dampak domino yang sering terjadi meliputi:
- Penundaan Gaji: Hak para guru menjadi terhambat.
- Fasilitas Terbengkalai: Sarana penunjang belajar tidak terawat dengan baik.
- Penurunan Kualitas: Mutu pembelajaran secara keseluruhan ikut merosot.
Sorotan Masalah Nyata di Lapangan
Berdasarkan pengalaman pendampingan selama hampir dua dekade, Woko Hadi Pristiawan mengidentifikasi empat pola masalah yang terus berulang di banyak sekolah di Indonesia:
- Ketidakseimbangan Finansial: Terjadi kesenjangan antara biaya operasional yang tinggi dan pendapatan yang minim.
- Minim Strategi: Sekolah cenderung tidak memiliki perencanaan keuangan jangka panjang yang matang.
- Sumber Tunggal: Pendanaan hanya bertumpu pada satu pintu, sehingga sangat rentan terhadap gangguan eksternal.
- Kurang Transparansi: Rendahnya tingkat akuntabilitas dan keterbukaan pengelolaan dana kepada masyarakat.
Kondisi tersebut dinilai dapat menurunkan martabat institusi pendidikan jika terus dibiarkan tanpa langkah solutif.
Solusi Strategis: Membangun “Sekolah Berdaulat”
Sebagai jalan keluar, Woko menawarkan konsep Sekolah Berdaulat. Model ini mendorong sekolah untuk bertransformasi menjadi institusi yang dikelola secara profesional dan tidak sekadar menunggu bantuan secara pasif.
Karakteristik Utama Sekolah Berdaulat:
- Mandiri Finansial: Memiliki kemampuan untuk mengelola keuangan secara berdikari.
- Transparansi Dana: Pengelolaan anggaran yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
- Optimalisasi Kemitraan: Memanfaatkan sumber pendanaan alternatif yang sah, seperti program CSR atau kerja sama strategis lainnya.
- Menjaga Moralitas: Tetap teguh memegang nilai moral dan tujuan mulia pendidikan.
Kritik Terhadap Narasi “Sekolah Gratis”
Woko Hadi Pristiawan juga menyoroti narasi “sekolah gratis” yang kerap disalahartikan oleh publik. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang berkualitas secara fundamental membutuhkan biaya yang nyata.
“Pendidikan berkualitas itu pasti membutuhkan biaya. Yang harus kita benahi adalah sistem pengelolaannya, bukan menutup mata terhadap kebutuhan riil di lapangan,” ujar Woko. Tanpa perhitungan matang, konsep sekolah gratis justru berisiko tinggi menurunkan standar layanan pendidikan itu sendiri.
Visi Besar: Sekolah yang Adil dan Makmur
Visi utama dari gagasan ini adalah terciptanya ekosistem pendidikan yang berkelanjutan di Indonesia. Woko mendorong perubahan pola pikir menyeluruh bagi yayasan, kepala sekolah, hingga masyarakat agar sekolah mampu:
- Berdiri mandiri tanpa ketergantungan berlebihan pada satu pihak.
- Memberikan layanan pendidikan yang adil dan bermutu tinggi.
- Menjamin keberlangsungan institusi dalam jangka panjang.
Penutup: Masa depan pendidikan yang bermartabat hanya bisa lahir dari keberanian untuk berubah menuju kemandirian. Dibutuhkan manajemen yang cerdas dan sistem yang kuat agar setiap lembaga pendidikan benar-benar menjadi sekolah yang berdaulat.
